Digitalisasi UMKM Urgen Dilakukan CIPS Agar Bertahan di Masa PPKM Darurat

From SEDS-USA Wiki
Jump to navigation Jump to search

SariAgri - Urgensi digitalisasi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) semakin mendesak dengan berlakunya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat yang membatasi jam operasi sentra-sentra ekonomi seperti pasar, swalayan, restoran dan lapak berjualan dan bahkan penutupan pusat perbelanjaan.

“PPKM Darurat juga berpeluang besar meningkatkan tren transaksi ekonomi digital dan peluang ini perlu dimanfaatkan oleh UMKM. Oleh karena itu, program digitalisasi yang bersifat jangka panjang dan berkesinambungan harus menjadi fokus dari pemerintah. Penting bagi pemerintah untuk memastikan UMKM dapat bertahan selama masa PPKM Darurat dan setelahnya,” ujar Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Noor Halimah Anjani di Jakarta, Senin (5/7).

Noor mengungkapkan saat ini belum semua UMKM beroperasi secara digital. “Data Kementerian Koperasi dan UMKM menunjukkan, baru 16 persen dari 64 juta UMKM di Indonesia yang sudah terhubung dalam ekosistem ekonomi digital,” ungkapnya.

Sebuah penelitian yang dilakukan Danareksa Research Institute juga memperlihatkan adanya kesenjangan digital antara UMKN yang mulai mengadopsi digitalisasi di masa pandemi.  Sebanyak 41 persen dari mereka yang mulai menggunakan platform digital berada di wilayah DKI Jakarta. Sementara di luar Pulau Jawa pengguna platform digital baru mencapai 16 persen.

Halimah menambahkan, rendahnya adopsi teknologi digital pada UMKM dipengaruhi oleh beberapa hal, seperti kurangnya pengetahuan dan skil dalam menggunakan layanan digital, merasa lebih nyaman berjualan secara offline dan juga tidak merasa aman dalam melakukan transaksi digital. berita ekspor buah terkini berita ekspor buah terkini  

Baca Juga: Kebijakan Perpajakan Jangan Cuma Menyasar Satu Model Bisnis DigitalKemendag Kolaborasi dengan Facebook Bantu UMKM Bertahan di Tengah Pandemi

Oleh karena itu, diperlukan pendampingan secara berkelanjutan agar pengusaha UMKM dapat memanfaatkan teknologi digital untuk meningkatkan penjualannya. Kerja sama antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah melalui Dinas Koperasi, UMKM, dan Perindustrian (Dinkop) perlu ditingkatkan. Selain itu, kerja sama dengan pihak swasta juga dapat membantu mempercepat proses digitalisasi ini dapat menjangkau lebih banyak lagi UMKM.

Selain bantuan finansial seperti Bantuan Produktif Presiden Usaha Mikro (BPUM) dan program-program digitalisasi, kemudahan dalam akses ke bahan baku, akses ke pasar, pemasaran dan distribusi produk dapat menjadi alternatif bantuan pemerintah bagi UMKM di masa pandemi.

Rencana pemerintah untuk memperluas jangkauan BPUM yang rencananya sebesar Rp 1,2 juta bagi 3 juta UMKM merupakan langkah strategis untuk memastikan UMKM masih dapat beroperasi di tengah pandemi. Halimah juga menambahkan, PPKM Darurat merupakan langkah yang responsif dan perlu diapresiasi.  

“Supaya bantuan ini efektif, pemerintah harus memastikan kriteria penerima bantuan dan memverifikasi datanya. Selain itu, pemerintah perlu melakukan sosialisasi secara luas dan merata. Simplifikasi pendaftaran juga perlu dilakukan, baik dari memperjelas syarat dan ketentuan serta dari segi proses pendaftaran,” tandasnya.

Video Terkait: