Harga Referensi CPO Juli 2021 Turun 10 6 Persen Ini Penyebabnya

From SEDS-USA Wiki
Jump to navigation Jump to search

SariAgri -  Plt. Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Kementerian Perdagangan, Indrasari Wisnu Wardhana, mengatakan kebijakan lockdown yang dilakukan India dan Malaysia menyebabkan harga referensi produk crude palm oil (CPO) Indonesia untuk penetapan bea keluar (BK) pada periode Juli 2021 turun sebesar 129,75 Dolar AS atau turun 10,6 persen menjadi 1.094,15 Dolar AS per MT dibandingkan dari periode Juni 2021 yaitu sebesar 1.223,90 Dolar AS per MT.

“Penurunan harga referensi CPO dipengaruhi oleh kebijakan lockdown yang dilakukan Malaysia dan India,” kata Wisnu dalam keterangan resminya di Jakarta, Jumat (2/7/2021).

Penetapan harga referensi untuk bea keluar dilakukan berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 43 Tahun 2021 tentang Penetapan Harga Patokan Ekspor (HPE) atas Produk Pertanian dan Kehutanan yang dikenakan Bea Keluar.

Saat ini harga referensi CPO menurun tetapi masih melampaui threshold 750 Dolar AS per MT. Untuk itu, Pemerintah mengenakan BK CPO sebesar 116 Dolar AS per MT untuk periode Juli 2021. BK CPO untuk Juli 2021 merujuk pada Kolom 8 Lampiran I Huruf C Peraturan Menteri Keuangan No. 166/PMK.010/2020 sebesar 116 Dolar AS per MT. Nilai tersebut turun 67 Dolar AS dari BK CPO untuk periode Juni 2021 sebesar 183 Dolar AS per MT.

Sementara itu, harga referensi biji kakao pada Juli 2021 sebesar 2.407,98 Dolar AS per MT menurun 1,95 persen atau 47,84 Dolar AS dari bulan sebelumnya, yaitu sebesar 2.455,82 Dolar AS per MT. Hal ini berdampak pada penurunan HPE biji kakao pada Juli 2021 menjadi 2.123 Dolar AS per MT, menurun sebesar 2,12 persen atau 46 Dolar AS dari periode sebelumnya, yaitu sebesar 2.169 Dolar AS per MT.

Baca Juga: Akibat ‘Lockdown’, Harga Patokan Ekspor CPO Diturunkan 10,60 PersenIE-CEPA Digadang-gadang Tingkatkan Profil CPO Hadapi Sentimen Negatif

Dikatakan Wisnu, penurunan harga referensi dan HPE biji kakao pada periode Juli 2021 disebabkan oleh faktor suplai dan stok kakao yang melimpah secara global.

“Sedangkan penurunan harga referensi dan HPE biji kakao disebabkan karena melimpahnya persediaan kakao global. Penurunan ini tidak berdampak pada BK biji kakao, yaitu tetap 5 persen,” katanya.

Menurut Wisnu, keputusan tersebut tercantum pada Kolom 2 Lampiran I Huruf B Peraturan Menteri Keuangan No. 166/PMK.010/2020.

Sedangkan untuk HPE produk kulit dan kayu juga tidak mengalami perubahan dari bulan sebelumnya. Hal ini juga berlaku untuk BK komoditas produk kayu dan produk kulit. BK produk kayu dan produk kulit tercantum pada Lampiran II Huruf A Peraturan Menteri Keuangan No.166/PMK.010/2020.

berita nilai ekspor

Video terkait: