Difference between revisions of "Naik 57 Persen Ekspor Pertanian Banten Meningkat Pesat di Tengah Pandemi"

From SEDS-USA Wiki
Jump to navigation Jump to search
m
m
Line 1: Line 1:
SariAgri - Kementerian Pertanian melalui Karantina Pertanian Cilegon mencatat adanya peningkatan performa kinerja ekspor di wilayah kerjanya. Tercatat sepanjang Januari-Juni, semester I tahun 2021 sebanyak 553 sertifikat ekspor diterbitkan dengan total nilai mencapai Rp 720 miliar atau meningkat 57 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya yang hanya Rp 458 miliar.<br /><br />"Kami mengapresiasi kinerja para pelaku usaha agribisnis di wilayah Banten apalagi ini di masa pandemi Covid 19, performa ini harus kita jaga," ujar Kepala Karantina Pertanian Cilegon, Arum Kusnila Dewi melalui keterangan persnya, Sabtu (10/7).<br /><br />Arum menjelaskan, dari data pada sistem perkarantinaan, IQFAST, sebelumnya di tahun 2020 ekspor komoditas pertanian di wilayah kerjanya juga naik sekitar 41 persen, dibanding tahun 2019 yang tercatat hanya Rp 267 miliar.<br /><br />"Sub sektor tanaman pangan menjadi penyumbang angka terbesar," jelasnya.<br /><br /> [https://notes.io/Hh3m perdagangan internasional] <br /><br />Arum menyebutkan, tanaman pangan pada periode ini tercatat menyumbang Rp 565 miliar, meningkat dibandingkan periode yang sama di tahun 2020 yaitu Rp 316 miliar dan Rp 186 miliar di tahun 2019.<br /><br /> [https://sayok.org/elumine/members/roastauthor90/activity/164154/ perdagangan internasional muncul akibat adanya kesamaan dalam] <br /><br />Baca Juga: Waspada! Penyebaran Virus Nipah ke Indonesia dari Ternak Babi di MalaysiaRembes Beras Vietnam, Legislator: Perlu Koordinasi Antar Kementerian<br /><br />Selanjutnya disusul sub sektor perkebunan yang menjadi penyumbang kedua terbesar, di mana mencapai Rp 88 miliar untuk tahun 2021. Nilai tersebut, lanjut Arum, rupanya menurun dibandingkan tahun 2020 yang mencapai Rp 99 miliar.<br /><br /> [https://www.cookprocessor.com/members/butterdoor42/activity/323396/ perdagangan internasional muncul akibat adanya kesamaan dalam] <br /><br />Adapun ragam komoditasnya berupa produk turunan dari gandum seperti dedak dan tepung serta produk olahan jagung, seperti tepung jagung, corn germ, maltodektrine, corn gluten feed, corn gluten meal dan sirup fruktosa.<br /><br />Lebih lanjut Arum menambahkan dari sub sektor kehutanan pada tahun ini mencapai Rp 67 miliar, sedangkan pada tahun 2020 di periode yang sama hanya sebesar Rp 37 miliar dan 48 miliar di tahun 2019.<br /><br />"Ragam komoditas sub sektor perkebunan antara lain berupa gula tebu dan karet lempengan. Sedangkan ragam komoditas dari sub sektor kehutanan diantaranya adalah olahan dari industri kayu diantaranya kayu lapis, furniture dan pallet kayu," jelasnya.<br /><br />Video Terkait:<br /><br />
+
SariAgri - Kementerian Pertanian melalui Karantina Pertanian Cilegon mencatat adanya peningkatan performa kinerja ekspor di wilayah kerjanya. Tercatat sepanjang Januari-Juni, semester I tahun 2021 sebanyak 553 sertifikat ekspor diterbitkan dengan total nilai mencapai Rp 720 miliar atau meningkat 57 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya yang hanya Rp 458 miliar.<br /><br />"Kami mengapresiasi kinerja para pelaku usaha agribisnis di wilayah Banten apalagi ini di masa pandemi Covid 19, performa ini harus kita jaga," ujar Kepala Karantina Pertanian Cilegon, Arum Kusnila Dewi melalui keterangan persnya, Sabtu (10/7).<br /><br />Arum menjelaskan, dari data pada sistem perkarantinaan, IQFAST, sebelumnya di tahun 2020 ekspor komoditas pertanian di wilayah kerjanya juga naik sekitar 41 persen, dibanding tahun 2019 yang tercatat hanya Rp 267 miliar.<br /><br />"Sub sektor tanaman pangan menjadi penyumbang angka terbesar," jelasnya.<br /><br />Arum menyebutkan, tanaman pangan pada periode ini tercatat menyumbang Rp 565 miliar, meningkat dibandingkan periode yang sama di tahun 2020 yaitu Rp 316 miliar dan Rp 186 miliar di tahun 2019.<br /><br />Baca Juga: Waspada! Penyebaran Virus Nipah ke Indonesia dari Ternak Babi di MalaysiaRembes Beras Vietnam, Legislator: Perlu Koordinasi Antar Kementerian<br /><br />Selanjutnya disusul sub sektor perkebunan yang menjadi penyumbang kedua terbesar, di mana mencapai Rp 88 miliar untuk tahun 2021. Nilai tersebut, lanjut Arum, rupanya menurun dibandingkan tahun 2020 yang mencapai Rp 99 miliar.<br /><br />Adapun ragam komoditasnya berupa produk turunan dari gandum seperti dedak dan tepung serta produk olahan jagung, seperti tepung jagung, corn germ, maltodektrine, corn gluten feed, corn gluten meal dan sirup fruktosa.<br /><br />Lebih lanjut Arum menambahkan dari sub sektor kehutanan pada tahun ini mencapai Rp 67 miliar, sedangkan pada tahun 2020 di periode yang sama hanya sebesar Rp 37 miliar dan 48 miliar di tahun 2019.<br /><br />"Ragam komoditas sub sektor perkebunan antara lain berupa gula tebu dan karet lempengan. Sedangkan ragam komoditas dari sub sektor kehutanan diantaranya adalah olahan dari industri kayu diantaranya kayu lapis, furniture dan pallet kayu," jelasnya.<br /><br /> [https://www.click4r.com/posts/g/2609750/pelaku-umkm-dapat-bantuan-hukum-dari-pemerintah-begini-syaratnya perdagangan internasional muncul akibat adanya kesamaan dalam] <br /><br />Video Terkait:<br /><br />

Revision as of 22:30, 7 October 2021

SariAgri - Kementerian Pertanian melalui Karantina Pertanian Cilegon mencatat adanya peningkatan performa kinerja ekspor di wilayah kerjanya. Tercatat sepanjang Januari-Juni, semester I tahun 2021 sebanyak 553 sertifikat ekspor diterbitkan dengan total nilai mencapai Rp 720 miliar atau meningkat 57 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya yang hanya Rp 458 miliar.

"Kami mengapresiasi kinerja para pelaku usaha agribisnis di wilayah Banten apalagi ini di masa pandemi Covid 19, performa ini harus kita jaga," ujar Kepala Karantina Pertanian Cilegon, Arum Kusnila Dewi melalui keterangan persnya, Sabtu (10/7).

Arum menjelaskan, dari data pada sistem perkarantinaan, IQFAST, sebelumnya di tahun 2020 ekspor komoditas pertanian di wilayah kerjanya juga naik sekitar 41 persen, dibanding tahun 2019 yang tercatat hanya Rp 267 miliar.

"Sub sektor tanaman pangan menjadi penyumbang angka terbesar," jelasnya.

Arum menyebutkan, tanaman pangan pada periode ini tercatat menyumbang Rp 565 miliar, meningkat dibandingkan periode yang sama di tahun 2020 yaitu Rp 316 miliar dan Rp 186 miliar di tahun 2019.

Baca Juga: Waspada! Penyebaran Virus Nipah ke Indonesia dari Ternak Babi di MalaysiaRembes Beras Vietnam, Legislator: Perlu Koordinasi Antar Kementerian

Selanjutnya disusul sub sektor perkebunan yang menjadi penyumbang kedua terbesar, di mana mencapai Rp 88 miliar untuk tahun 2021. Nilai tersebut, lanjut Arum, rupanya menurun dibandingkan tahun 2020 yang mencapai Rp 99 miliar.

Adapun ragam komoditasnya berupa produk turunan dari gandum seperti dedak dan tepung serta produk olahan jagung, seperti tepung jagung, corn germ, maltodektrine, corn gluten feed, corn gluten meal dan sirup fruktosa.

Lebih lanjut Arum menambahkan dari sub sektor kehutanan pada tahun ini mencapai Rp 67 miliar, sedangkan pada tahun 2020 di periode yang sama hanya sebesar Rp 37 miliar dan 48 miliar di tahun 2019.

"Ragam komoditas sub sektor perkebunan antara lain berupa gula tebu dan karet lempengan. Sedangkan ragam komoditas dari sub sektor kehutanan diantaranya adalah olahan dari industri kayu diantaranya kayu lapis, furniture dan pallet kayu," jelasnya.

perdagangan internasional muncul akibat adanya kesamaan dalam

Video Terkait: